Limbah Tahu Jadi Sumber Biogas

Yang menarik, para perajin tahu itu memanfaatkan biogas yang berasal dari limbah proses pembuatan tahu mereka. Sebagian besar perajin itu termasuk sekitar 200-an kepala keluarga di Desa Kalisari yang membayar iuran sebesar Rp 20.000/bulan untuk menggunakan biogas. Desa Kalisari sudah menjadi Desa Mandiri Energi alasannya yakni pemanfaatan biogas itu.
Biogas asal limbah tahu yang disebut biolita itu diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Biogas tersebut mempunyai keunggulan, yakni tidak gampang terbakar serta tidak berbau sehingga ramah ramah lingkungan.
Sejatinya biogas limbah tahu menjadi laba bagi warga Desa Kalisari. Harap mafhum sebelum terdapat IPAL, limbah yang mengandung senyawa berbahaya menyerupai karbondioksida, sulfur, dan amonia itu digelontorkan begitu saja ke Sungai Kalisari. Padahal air sungai tersebut digunakan warga untuk pengairan lahan pertanian serta budidaya ikan.

Air limbah akan melalui potongan bambu sepanjang 10 cm dengan garis tengah 5-8 cm yang diletakkan bertingkat. Potongan bambu itu yakni rumah bagi mikroba pengurai gas berbahaya. Mikroba pengurai itu berasal dari kotoran kerbau. Setelah melewati potongan bambu itu, air limbah menjadi higienis dan aman.
Gas metana yang dihasilkan dialirkan ke tabung lain berbentuk balon berkapasitas sampai 20 m3. Dari tabung itu, biogas berupa gas metana mengalir ke rumah warga. Setiap hari dari pengolahan limbah tahu itu diproduksi sampai 400-450 liter gas metana.
Yang istimewa pedoman air limbah tahu serta gas cukup mengandalkan gravitasi dan tekanan sehingga tidak memerlukan energi listrik. Sebab bertekanan rendah, pemakaian biogas lebih kondusif dari potensi ledakan.




Belum ada Komentar untuk "Limbah Tahu Jadi Sumber Biogas"
Posting Komentar